SMPIT NURUL ISLAM TENGARAN

Integrated Islamic Boarding School

Sehat Mencontoh Nabi, Santri Putri SMPIT-MA Ikuti Kajian Thibbunnabawi

Nurul Islam Tengaran, Kab. Semarang -- Rasulullah saw. sejak 14 abad lalu telah memberitakan bahwa ada dua nikmat yang sering dilalaikan oleh manusia, yaitu sehat dan waktu luang. Kebanyakan manusia baru menyadari kedua nikmat ini saat kehilangannya. Saat tertimpa sakit barulah menyadari nikmat sehat, saat waktu sudah diliputi kesibukan barulah menyadari nikmat waktu luang.


Nyatanya hari ini kita menyadari akan mahalnya harga kesehatan. Entah seringnya sakit, atau biaya pengobatannya. Sehat itu bukan soal saat tertimpa sakit barulah melakukan pengobatan. Sehat itu soal pola atau kebiasaan hidup. Dan pola hidup terbaik bagi manusia adalah dengan mencontoh Rasulullah Muhammad saw. Oleh itulah, asrama putri SMPIT-MA Nurul Islam Tengaran berinisiatif menyelenggarakan kajian thibbunnabawi dengan melibatkan seluruh santri putri bertema "Sehat Mencontoh Nabi" pada Ahad (29/1) jam 09.30 WIB.


Kajian ini dipandu oleh praktisi thibbunnabawi Herba Penawar Alwahida, Ustadz Khoirul Umar. Di depan sekitar 300-an santri, pembicara menyampaikan bahwa Rasulullah saw diutus kepada manusia untuk menyampaikan risalah sekaligus menjadi teladan dalam segala aspek. Dalam hal ini termasuk bagaimana beliau mencotohkan pola hidup yang sehat. Maka kita mendapati bahwa beliau hanya pernah tertimpa sakit dua kali seumur hidup beliau. Begitu pun para sahabat, sangat jarang tertimpa sakit.


Pola hidup sehat Rasulullah saw menjadi sunnah yang mesti diikuti oleh sesiapapun manusia, yang menginginkan kehidupan selamat di dunia maupun akhirat. Pola hidup atau sunnah yang perlu kita contoh adalah dalam tiga aspek :  makan, istirahat, dan bersuci (thaharah). Pola makan berarti memenuhi unsur halalan thayyiban. Halal berarti makanan yang tidak diharamkan. Thayyib berarti makanan yang baik dan menyehatkan. Untuk sehat, tidak hanya unsur halal yang diperhatikan, tapi thayyib juga harus dipenuhi. Begitu banyak makanan sekeliling kita yang tidak memenuhi unsur thayyib, dan nyatanya mungkin sebagian besar yang kita konsumsi saat ini sudah tercampur dengan berbagai zat sintetis : penyedap rasa, pewarna, pemanis buatan, pengawet, daan seterusnya. Yang berarti tak memenuhi unsur thayyib, sekalipun itu halal. Pembicara juga menjelaskan perihal banyak adab yang mesti diperhatikan saat makan. Adab adalah satu hal yang banyak dilalaikan umat Islam saat ini, padahal adab adalah pengundang barakah.


Berikutnya pola istirahat, yakni tidur malam dan siang. Posisi tidur yang Allah tidak sukai adalah tidur tengkurap, karena sangat buruk dampaknya bagi tubuh manusia. Miring ke kanan menghadap kiblat dan berdoa sebelum tidur adalah adab tidur yang dicontohkan Rasulullah saw. Beliau juga mencontohkan agar saat tidur, cahaya dipadamkan. Hal ini terkait produksi hormon melatonin yang akan terhambat jika retina menangkap walaupun cahaya yang redup. Hormon melatonin sangat penting untuk pertumbuhan, regenerasi sel, serta pembuangan racun dalam tubuh.


Berikutnya adalah pola bersuci atau thaharah, yaitu berwudhu, mandi, dan istinja'. Berwudhu tak disangkal sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kesegaran tubuh. Semua anggota tubuh yang dibasuh wudhu memiliki titik-titik yang mengaktifkan saraf dan sel kulit. Mandi pun ada tata laksana agar setelah mandi diperoleh kebugaran, baik ruh maupun tubuh. Tak sekedar menyiramkan air ke tubuh. Bahkan berdoa sebelum masuk kamar mandi adalah adab yang tak boleh ditinggal. Ternyata doa sebelum masuk kamar mandi adalah permohonan kepada Allah agar diindungi dari setan laki-laki maupun perempuan. Istinja' atau bersuci dari buang air juga perlu kaedah agar bersih dan tuntas dari najis. Karena najis yang tertinggal menempel di pakaian menjadi salah satu penyebab manusia terjerembab ke dalam jurang api neraka.


Dengan kajian menghidupkan sunnah Nabi ini, menjadi titik pangkal bagi para santri untuk mengubah cara hidup yang lebih sehat. Dan kelak menjadi modal agar memperoleh kesehatan yang prima sekalipun umur sudah lanjut. Kajian diakhiri saat telah memasuki waktu dhuhur. (red/umar)